Pages

Banner 468 x 60px

 

Monday, January 23, 2017

Abang Sayang #3

0 comments
Siapa, sih, yang bisa tahan menanggung rindu? Gak ada… Efeknya, kalo gak sakit, ya mati, hahaha, eit jangan protes dulu…, ada orang bilang begini: “Berat hati ini menanggung rindu, rindu yang kian lama hendak membunuhku, membunuhku dalam kerinduan, kerinduan yang membunuhku. Mati dalam kerinduan” Uyeeeee, segitunya, hehe. Tapi bener, lho, yang namanya rindu memang susah diobati. Kalo kondisinya tambah parah, bisa-bisa harus segera berurusan dengan psikiater terdekat di kota Anda, hihihi. Tinggal tunggu hasil diagnosisnya dan silakan dibaca resepnya. Paling dikasih obat penenang dosis tinggi, hehehe.

Ehm, cinta terlarang karena status sosial, yah, akhirnya jadi begini ini, muruuuung terus, males makan, susah tidur, dunia seakan tak berwarna, hambar. Lagi ngomongin siapa, sih? Aku? Hehe, bukan…, tapi ini lho kucing punya tetangga, depan rumah. Gkgkgk.

Si Abang namanya, kucing kesayangan Bunda Yhatie. Cinta Abang diduga akan segera kandas sebelum mekar dan bersemi melewati musim hujan ini. Uhuk (keselek, dah). Cintanya pada Burik, kucing liar tak bertuan dari kampung sebelah itu tak direstui Bunda Yhatie. Seharian ini Abang mengalami hal terburuk yang paling dibencinya – Abang tak lagi bebas berkeliaran di jalanan, Abang dikurung di rumah. Abang tak dapat lagi membuat kerusuhan di atap rumah tetangga, tak lagi membuat kerepotan pengendara jalanan akibat menyebrang sembarangan atau tawuran yang beresiko kemacetan di sepanjang Gang Kucing seperti hari-hari sebelumnya. Waduh, kelewat dramatis nih, hehe.

*****
Abang benar-benar kesunyian… Abang sedang menderita, menderita menanggung rindu, rindu pada Burik, kucing liar dari kampung sebelah.

“Biasanya genting rumah saya bocor setiap seminggu tiga kali!”

“Nah, saya kemarin hampir nabrak pohon, banting setir waktu liat kucing-kucing nyebrang di jalan sana, waktu itu Si Abang yang lagi kejar-kejaran.”

“Aduh ibu-ibu, Si Abang emang ude wataknya begitu dari orok, bikin heboh terus.” Jelas Bunda Yhatie dengan cueknya di sela protes ibu-ibu penghuni Gang Kucing. Bang Safri, tukang sayur keliling yang kini dikerubuti ibu-ibu dari Gang Kucing itu cuma mesem-mesem sambil melayani para pelanggannya. Aku memperhatikan dari kursi teras, sesekali melongok ke dalam, Mama belum juga muncul.

Tak berapa lama, Mama ke luar, menenteng dua keresek sampah dari dapur. Aku tergopoh membantu membawakan sampah-sampah itu untuk dibuang ke TPS.

“Ee, Bu Ani… Sini gabung, Bu.” Sapa Bunda Yhatie ketika melihat Mama menghampiri.

Aku melengang, menuju tempat pembuangan sampah di seberang Gang Kucing. Sepagi ini hampir semua pekarangan warga sudah tampil bersih, enak dipandang. Ada satu tanaman yang membuatku berhenti ketika melewati pekarangan rumah Mama Okta. Ada pohon cabe yang warna buahnya beragam warna. Sejenak aku melihatnya lebih dekat.

“Mau ke mana pagi-pagi, Al?” Sebuah suara mengejutkanku.

“Ini mau buang sampah, Ma.” Kulihat Mama Okta di pintu samping. “Tapi mau liat dulu ini nih, unik ya, Ma, pohon cabenya.” Aku menunjuk pohon cabe yang berjejer cantik di dalam polybag.

“Oh, itu. Sini masuk dulu, ngobrolnya di dalam. Mama Okta melambai padaku yang masih berdiri di balik pagar rumahnya.

Aku kembali meneruskan perjalanan setelah pamit dan berjaji akan mampir setelah kembali dari TPS.

Bisa dipastikan, warga sini memang telaten mengurus segala sesuatu termasuk tanaman. Pohon-pohon rindang yang berdiri di sepanjang jalan dengan jarak 6 meter antara pohon satu dengan pohon lainnya memang sudah menjadi bagian dari perencanaan tata kota sebelumnya, eh tata gang mungkin hehe. Sebagian besar cabang-cabang pohon berdaun lebat yang menaungi pejalan kaki di sepanjang jalan gang ini hampir mirip boulevard, hanya saja warga harus lebih rajin bekerja bakti membersihkan daun-daun kering yang berjatuhan di sekitarnya. Aku semakin menyukai keunikan Gang Kucing beserta seluruh isinya dibanding dengan tempat tinggalku sebelumnya.

“Al!” Seseorang memanggilku, aku celingukan mencari si pemilik suara dan akhirnya kutemukan sosok Ratih dari balkon rumahnya, masih lengkap dengan alat pel di tangan. Blacky, Ullie, Ndundut, dan kucing-kucing peliharaan lainnya kulihat mondar-mandir tak jauh dari situ.

“Hei!” Sahutku.

“Mau ke mana?” Tanya Ratih setengah berteriak.

“Buang sampah ke depan.” Jawabku seraya mengangkat tinggi dua keresek sampah di tanganku.

“Nanti siang ada di rumah, gak?” Tanya Ratih lagi, lengannya bertumpu ke besi pembatas balkon.

Aku terdiam sejenak, mengingat-ingat sesuatu, kemudian menggelengkan kepala. “Gak ada, ke rumah aja, OK!”

“Sip.” Ratih mengacungkan jempol ke arahku.

Semenjak kami tinggal di satu gang, aku dan Ratih lebih akrab karena di sekitar sini hanya aku dan Ratih yang terbilang masih seusia dari kalangan cewek, yang lainnya cowok-cowok dari kostan Bu Haji Salamah, kebanyakan memang seusiaku, mereka juga – sebagian – masih mahasiswa seangkatan dari fakultas pendidikan dan kedokteran, kami tidak terlalu dekat, hanya jika ada acara yang diselenggarakan oleh para pengurus Gang Kucing saja kami biasa kumpul, selain itu jarang banget. Oh iya, kudengar ada salah satu penghuni kontrakan Bu Haji Salamah yang sedang menempuh pendidikan di kedokteran hewan. Kata Mas Ari, dia masih anaknya kenalan Om Yudith, yang dulu pernah aku ceritakan punya petshop dan observator kucing di gang ini.

*****
Hufff

Kulempar begitu saja sampahnya ke dalam TPS sebelum akhirnya seekor kucing melompat keluar. Wih, kaget. Dan saat itu juga memori di kepalaku segera mengingat sesuatu.

“Iya, Al. Biasanya diem di dekat TPS itu. Bunda gak suka kalo Abang deket-deket sama Burik. Gak bisa cari betina yang agak manis dikit napa.”
Suara Bunda Yhatie beberapa hari yang lalu kembali terngiang di kepalaku. Burik? Ya, ini pasti yang namanya Burik. Kuperhatikan lekat-lekat wajah Burik yang kini berdiri terpaku menatapku, sesekali matanya melirik pada onggokan sampah dan kembali menatapku lagi.

“Sini, empush… push, push.” Aku berjongkok, menggerak-gerakkan jemari seperti memanggil ayam.

Dengan ragu, Burik mendekat, mengendus ke arah tanganku seolah berharap ada makanan di sana. Burik memang kucing liar yang tidak terlalu sulit didekati. Dengkuran manjanya ketika kuelus kepalanya menandakan Burik kucing yang jinak.

“Hoho, pantas saja Si Abang suka sama kamu, kucing baik.” Aku terkekeh sambil mengelus terus bulu-bulu abu Burik yang tak begitu terurus. Kasian, pikirku, Sempat terlintas di benakku untuk membawa Burik ke rumah, memeliharanya di rumah, namun ide itu segera kuhapus ketika mengingat betapa Mama tidak akan setuju tentang itu. Dengan berat hati, kutinggalkan Burik yang masih terbengong menatapku, sedikit kecewa karena aku berhenti mangelusnya dan terus berlalu tanpa kembali menoleh padanya.

Bersambung....

Bunda Yhatie Suryo Lukman, Mama Okta Leni, Ari Saputra, Ratih Nur Aini, ikut berperan lagi di cerita ini hehe
Read more...

Abang Sayang #2

0 comments
“Kapan-kapan lu kudu maen ke kandang ane, Bro.”

Venti mangguk-mangguk. “Apa tadi namanya? Gang Kucing?”

“Yup.”

“Hmmm.” Venti mencoba mencatat nama Gang Kucing di ingatan.

“Gue cus dulu, Ven, takut keburu ujan, nih.” Kataku sambil menuntun scoopy ke pelataran luas dekat area parkir.

Venti melambaikan tangannya padaku sambil berteriak, “Ati-ati di jalannn… Perasaan gue lagi kagak enak!”

“Iye, Nyak!” Balasku, ngakak.

Scoopy manisku segera meluncur, deras menerobos hiruk-pikuk pengendara ibu kota.

*****
Langit sore bermuram-durja, berkaca di genangan air hujan. Udara dingin seakan berebut masuk ke dalam tulang.

Baru saja tiba di muka Gang, mataku segera menangkap sosok berbulu sedang bersidekap di pos ronda – sebetulnya pos itu lebih sering dibuat camp tempat kumpul-kumpul pemuda kostan Bu Haji Salamah daripada digunakan sesuai fungsi yang seharusnya.

Jreng!

Tampak tiga pemuda seusiaku genjrang-genjreng tak karuan. Segera kuhentikan motorku untuk sekedar memastikan apa yang baru saja kulihat. Seekor kucing berbulu abu dan tiga pemuda tongkrongan penghuni Gang Kucing yang sama-sama sedang galau. Hehe.

“Oyy, biar musim lagi berrr kayak gini tapi posko tetep rame yah, cakep toh.” Seruku.

“Yo-i, sini gabung, Al.” Mas Ari melambai padaku.

“Iye, sini gabung, ngopi-ngopi sini.” Sambung Mas Kohar, disambut anggukan mas-mas yang satu lagi, dia pendatang baru di kostan Bu Haji Salamah.

“Ogah, ah, capek. Lain kali aja deh, yak.” Kataku bersiap melaju kembali.

“Haha, oke lah.” Sahut Mas Ari, kemudian memberi isyarat supaya musik diperdengarkan lagi.

Aku melengang, menyusuri Gang Kucing yang sedari pagi disiram air hujan. Kulambatkan laju motorku. Tinggal dua rumah lagi, nyampe dah.

*****
Baru saja kuparkir motor di halaman, sebuah suara segera menghentikan langkahku sebelum masuk rumah.

“Abang…! Ke mana lagi tuh kucing??”

Kutengok asal suaranya. Kulihat Bunda Yhatie sedang mencari sesuatu dari balik pagar rumahnya. Rumah kami memang berseberangan, hanya pintu pagar rumah kami saja yang tidak pas berhadapan.

Tampaknya Bunda Yhatie sedang mencari kucingnya. Genting-genting rumah sekitar tak luput dari perhatiannya. Tapi apa yang dicarinya masih belum menampakkan diri.

“Hehe.” Aku terkekeh memperhatikannya.

Si Abang, kucing berbulu abu kesayangan Bunda Yhatie memang kabarnya lagi kurang betah di rumah. Banyak sekali ulahnya Si Abang, mulai aksi tawuran sampai aksi kabur dari rumah. Hm, hmmm, ada-ada saja.

“Si Abang lagi nongkrong di pos ronda, Bun!” Seruku, melongokkan kepala.

Bunda Yhatie berhenti, melihat ke arahku seolah minta aku mengulang lagi. Aku senyum-senyum saja sebelum akhirnya buru-buru berbalik menuju pintu.

Bersambung....

(Thanks buat Mama Okta Leni yang udah ngingetin soal lanjutan cerita 'Gang Kucing' hehe untuk judul 'Abang Sayang' ini kayak x bakalan panjaaaangg bingit wkwkwk, ouh iya, Mba Venti Yunita pinjem namanya nih, gpp? hehe. Bro Ari Saputra disenggol dikit nih di pos ronda depan Gang Kucing xixixi)

*****
Read more...

Abang Sayang #1

0 comments
– Minggu mendung –

Tidak seperti biasanya. Gang Kucing tampak lengang. Gemericik hujan dan cuaca dingin akhir-akhir ini cukup ekstrim. Warga ogah sekali penampakan di luar rumah. Aktivitas keluar sebisa mungkin dibatasi, seperlunya saja.

Supaya omset tetep normal, Bang Ainu dan kawan-kawan pengelola kafe di ujung gang itu sampe nerima pesanan antar alias delivery order untuk pelanggan setia kafenya. Tinggal pesan lewat SMS, lima menit kemudian, “Spadaaaaa….” Pesanan tiba. Dan yang lebih asiknya, pembayaran di atas seratus ribu bisa ditransfer via rekening online. Walhasil, kafe bang Ainu malah tambah laris saja.

“Oke, oke, agak siangan dikit. Aku belom mandi, nih, hehe.”

“Yasud, ditunggu bingit.”

“Sipppp.”

“Awas lo telat.”

“Okkkeeee…”

Tut tut tut. Sambungan terputus. Buru-buru kuhabiskan bubur ayam spesial pesananku kemudian segera ke kamar mandi.

Belum sampai satu menit, aku sudah keluar lagi.

“Hih, dinginnnn.”

Celingukan. Airnya memang dingin banget, tapi gak mungkin kalo kagak mandi.

“Pake aer anget sana.” Mama kurang setuju kalau anaknya keluyuran sebelum mandi.

“Kayak Si Ucil aja, Ma, mandi pake aer anget.” Protesku, tapi akhirnya ke dapur juga, masak air.

*****

Tadaaaa… Jaket bulu, sepatu kets, kerudung kaus, jeans gombrong, rasanya sudah lengkap menahan cuaca dingin di luar sana.

Langit begitu sunyi. Scoopy kesayanganku meluncur mulus menyusuri Gang Kucing. Pukul sepuluh aku harus sudah sampai di acara pagelaran sastra. Ada puisi yang harus kubaca. Telat sedikit, panitia pasti heboh.

“Lima belas menit lagi.” Bisikku, sekilas kulirik arloji di pergelangan.

Akibat lirik-lirikan begitu, hampir saja aku menabrak sesuatu. Motor scoopy-ku berdecit. Beberapa kucing melintas di depanku.

“Abaaaaang!” Satu teriakan membuatku menengok ke arah suara. Bunda Yathie tampak berdiri di balik pagar.

“Hadeh, hampir ketabrak. Tawuran lagi ya, Bun.”

“Iya, duh, Si Abang emang doyan banget tawuran. Kemana lagi dia?” Bunda Yathie berjinjit-jinjit melihat ke arah larinya Si Abang, kucing kesayangannya itu.

Aku geleng-geleng.

*****
Bersambung….
Read more...

Gang Kucing Bag.2

0 comments
Apalah Arti Sebuah Nama

Gang Kucing memang berbeda dari gang-gang lainnya di kawasan Kampung Asri yang kebanyakan dinamai dengan nama-nama pahlawan nasional seperti Gang Otista (singkatan dari Otto Iskandar Dinata), Gang  Dewi Sartika, Gang Abdul Muis, Gang Surjopranoto, de el el.

Pernah, nama Gang Kucing bermaksud diganti oleh pihak RW dengan alasan penyeragaman tema. Namanya harus diambil dari nama pahlawan nasional juga. Begini cerita selengkapnya.

“Ciyeee, sampe segitunya nih, Pak Erwe.” Ledek salah seorang warga ketika membaca surat undangan pertemuan terkait rencana perubahan nama untuk Gang Kucing.

Besoknya, seluruh kepala keluarga sama-sama hadir di ruang pertemuan. Pembicaraan terkesan alot.

“Apalah arti sebuah nama, Pak Erwe. Kita sudah cukup familiar dengan nama Gang Kucing, tak usah lah diganti.” Pak Gus mengajukan usul penolakan. Nada baritonnya menggema di seisi balai pertemuan. Hadirin yang turut hadir membuat isyarat persetujuan dengan tepuk tangan meriah, sesekali ada suitan dari tempat duduk paling belakang. Ruangan bergemuruh seru. Pak Erwe duduk menekuk pundak seraya mengelus janggut yang sudah sebagian memutih. Diliriknya ketiga orang di samping kiri dan kanannya. Pak Roy, selaku sekretaris, hanya terdiam menunggu keputusan tetua. 

Beberapa saat kemudian, rapat ditutup, hadirin dipersilakan bubar.

“Saya juga kurang setuju, Pak. Nama gang kucing, kan, lebih berkarakter, punya filosofi tersendiri dibandingkan dengan gang lain.” Ujar seorang pemuda jangkung saat meninggalkan balai pertemuan.
Bapak yang sedari tadi diajak berbicara turut menimpali, “Seharusnya begitu.”

“Seandainya mau diseragamkan dengan gang lain, lebih baik gang lain saja yang diganti dengan nama-nama hewan, misalnya: gang monyet, gang tikus, gang…”

“Gang guk-guk.” Seseorang berseloroh di tengah ramainya pembicaraan. Serempak menoleh lalu protes, “Jangan pake nama yang itu!”

“Hehe.” Mas Ari cengar-cengir.

“Sudahlah, mudah-mudahan Pak Erwe mau memikirkan kembali suara hati kita. Semoga Gang Kucing tidak akan pernah diganti dengan nama Ahmad Yani.”

“Amiin….” Koor, bapak-bapak mengamini ucapan Om Shion.

Aku dan Ratih yang kebetulan sedang mampir ke rumah Mpok May siang itu tanpa sengaja mendengarkan semua pembicaraan bapak-bapak yang baru pulang dari acara pertemuan warga.

“Jadi betul, ya, gang ini mau diganti nama?” Ratih melirik padaku.

“Katanya, sih, begitu.”

“Memangnya mau diganti sama apa, Mpok?” Ratih beralih menatap Mpok May yang sedang siap-siap menyiram bunga-bunga di pot halaman rumahnya. Aku tetap menyimak sambil melihat-lihat majalah.

“Katanya mau diganti sama nama Pahlawan.”

“Oh? Kayak Superman begitu, Mpok?” Tebak Ratih. Aku ngakak.

“Gang Superman? Mana pantes, lha.” Mpok May geleng-geleng tak setuju.

“Misalnya…” Ralat Ratih, tersipu.

“Pake nama pahlawan lokal aja, misalnya Pitung.” Usulku asal.

“Jaka Tingkir.”

“Nggak, bagusan Jaka Gledek.” Kataku lagi ikutan ngaco, memangnya Jaka Tingkir sama Jaka Gledek masuk kategori pahlawan gitu? Wkwkwk.

“Udah sono, sampaikan langsung ke Pak Erwe.” Seru Mpok May sambil mengangkat ember ke dekat pot. Aku dan Ratih saling pandang. “Hehe…” Ide bagus, pikirku. Tiba-tiba Mpok May terpekik kaget. Gayung berisi air cepat ditariknya dari sasaran penyiraman.

“Ya, ampun!”

“Kenapa, Mpok?” Spontan, Ratih melompat dari kursi, takut terjadi apa-apa.
Mpok May menuding ke arah pot. Seekor anak kucing sedang tertidur pulas di dalam pot.

“Hahaha.”

“Pindahin, Mpok, nanti kesiram.” Ratih terkekeh geli.

“Hadeh, gak usah, biarin aja, gak jadi disiram aja deh, hehe.” Hampir saja Si Uwang, kucing kecil piaraan Mpok May itu, kena serangan air dari gayung, hihihi. Acara siram tanaman sedikit terganggu dengan ditemukannya Uwang di pot tanaman. Ceritanya Uwang lagi ngadem, hehehe.

“Zzzzzzzz…”

Udara siang itu tambah sangar, panasnya nampol. Buku-buku majalah di meja depan rumah Mpok May sudah beralih fungsi menjadi kipas. Debu jalanan memilih pagar-pagar halaman dan pohon-pohon di depan rumah warga untuk bersembunyi dari angin yang terus mengajak bermain.

Namun, udara semacam itu tidak jadi masalah untuk sebagian warga yang senang berkumpul, terutama di Kafe Bang Ainu. Akibat udara yang panas, ditambah obrolan seputar rapat warga hari itu yang gak ada matinya, aneka Jus Bang Ainu laris seketika.

*****
Ah, besoknya warga senang sekali. Ada kabar gembira. Sekretaris RW menyampaikan keputusan Ketua RW melalui pertemuan tertutup dengan pejabat RT setempat bahwa Gang Kucing tidak jadi diganti dengan nama Ahmad Yani.

“Alhamdulillah…” Warga yang mendengar berita itu segera mengucap syukur.

Gang Kucing J

*****
Read more...

Gang Kucing Bag.1

0 comments
Selamat datang di Kampung Asri, Kecamatan Warna-warni. Anda akan memasuki kawasan ramah lingkungan bebas polusi. ”GANG KUCING”.
Begitu isi tulisan yang terpampang jelas di samping gapura yang menghubungkan arah jalan ke rumah baru kami.

Baik, mari kita masuk. Jalan masuk ke gang ini terbilang lebar, tiga gerobak bubur Pak Naryo saja masih muat meluncur ke pedalaman empatratus meter hingga menerobos keluar dari gang Kucing. Gang yang hanya dihuni oleh 18 keluarga ini memang unik, sebagian besar penghuninya memiliki hobi memelihara kucing! Hah, kok bisa? Yah, menurut sejarah yang sempat kami dengar dari kabar tetangga, sih, begitu.

"Iya, Al, makanya gang ini dikasih nama Gang Kucing." Jelas Mama Okta, tetangga baruku yang juga memelihara beberapa kucing ras. Salah satu kucingnya yang diberi nama Ucil sudah cukup ngetop di wilayah sini. Kebiasaan anehnya tidur di bawah karpet di dalam kandang itu membuat Ucil sering jadi bahan obrolan ibu-ibu di kegiatan PKK. Tau singkatan apa PKK? Pameran dan Kompetisi Kucing. Ya, ada-ada saja nama kegiatan di sini. Dengan diadakannya kegiatan ini, seluruh pemilik kucing jadi termotivasi untuk merawat kucingnya sebaik mungkin. Mulai dari Lomba kucing sehat, kontes 'miauw' paling cempreng, lomba loncat tertinggi, lomba makan cuek, dan masih banyak lagi lomba lainnya yang diadakan setiap satu bulan sekali. Semua warga turut mendukung, para kepala keluarga yang tergolong pasif karena kesibukan kerja pun tidak pernah melewatkan acara PKK yang biasa diselenggarakan di area lapang dekat balai pertemuan warga. Para panitia biasanya diambil dari pemuda-pemudi yang baru duduk di bangku SMA juga perkuliahan. Aku pernah ditawari untuk gabung. Lumayan, untuk ajang perkenalan. Aku tak keberatan.

****
Bermula dari satu keluarga yang menempati rumah di barisan keempat sebelah kiri jalan ini, kita sudah bisa membaca sebuah spanduk melintang di atas jalan yang bertuliskan : MINAT ADOPSI KUCING PERSIA? Hub: 0213-4444555 (Yudith). Tak aneh, setiap rumah punya satu kucing hias untuk bermacam alasan pemeliharaan, ada yang memang suka kucing jenis ini, ada yang niat rawat saja, tapi ada juga yang memelihara untuk teman bermain anak-anak. Setahuku, bisnis pemeliharaan kucing ini sudah berjalan semenjak Om Yudith masih tinggal di Bandung. Berkat iklan yang juga dipasang di internet, beberapa kucing bisa dikirim ke luar kota, sesuai lokasi pengadopsian. Rumahnya yang memiliki teras yang luas itu sudah tentu jadi semacam lahan pameran kucing setiap paginya. Banyak macam jenisnya di dalam kandang-kandang teralis, aku sendiri kurang begitu tau. Terkadang Om Yudith mempromosikan ras kucing terbarunya melalui SMS ke para tetangga dan kenalan:

Kucing Persia Jantan Remaja Pedigree ICA

- DOB 13/07/2014
- Warna Red Tabby Blotched
- Champion bloodline
- Vaksin lengkap + Microchip
- Kucing sehat dan terawat
- Bulu tebal, mata bulat dan open                                                                                    
- Flatnose (PET QUALITY)

Aku, sih, memang suka kucing, tapi mengingat kesibukan aktivitasku di luar, jadi tidak mungkin ikut-ikutan mengurus kucing seperti yang dilakukan Mpok May, Mama Okta, Bunda Yathie, Tante Shinta, Mbak Fitri, Mbak Martha, Om Dode, Bunda Ina, dan kawan-kawan. Perawatannya, kan, harus telaten, harus sepenuh hati biar kucingnya sehat-sehat gitu.

Salah-salah mengurus, kucing bisa mati atau penyakitan.Dan akibat kelalaian lupa memasukkan kembali kucingnya ke kandang setelah diajak bermain, tidak jarang seekor kucing ras tampak keluyuran di jalanan. Kalau sudah kejadian begitu, ibu-ibu di Gang Kucing mulai melancarkan aksi pengepungan. Kucing siapapun yang terjerat kasus pelarian akan dikenakan hukuman penggembokan selama beberapa hari hingga dipastikan mengalami efek jera.

Begitulah, dua bulan tinggal di Gang Kucing, aku sudah mulai mengenal kondisi lingkungan dan sebagian besar penghuninya.

"Hoaahhhmmm..."


Malam sudah semakin larut, banyak sekali yang ingin aku ceritakan. Tapi biar diteruskan besok saja, OK. Good night....*****
Read more...

Serial : GANG KUCING

0 comments
Mempersembahkan. Satu karya tulis berjudul 'Gang Kucing' yang didalamnya mengangkat nama-nama anggota KOMUNITAS PECINTA KUCING beserta kucing kesayangannya yang mudah-mudahan bisa dijadikan bahan untuk pembuatan Novel di lain kesempatan. So, selamat membaca...

Daftar Isi :
- Gang Kucing Bag.1
- Gang Kucing Bag.2
- Gang Kucing Bag.3 : ABANG SAYANG
   - Abang Sayang #1
   - Abang Sayang #2
   - Abang Sayang #3
   - Abang Sayang #4

Read more...

Poo Oh Poo

0 comments
Mari sedikit bercerita. Ini bukan tentang Timy dan Pak Kumis yang sampai saat ini belum punya gebetan. Ini tentang 'Poo', kucing gondrong punya tetangga jauh, beda RW, beda RT.

- Poo Oh Poo -

Selaku kucing yang 'baru dinobatkan sebagai bagian dari warga RW 01, Poo cukup jadi pusat perhatian. Di usianya yang tergolong dewasa, Poo cukup menarik, aku sebut saja 'Poo si Kucing 3G': Ganteng, Gendut, dan bikin Gerrrrr cewek-cewek (baik cewek dari golongan kucing, maupun manusia). hehehe

Awal kedatangannya cukup bikin heboh para tetangga, gimana nggak? Poo, jenis kucing langka, kata yang empunya, sih, Poo Si Kucing 3G ini dikirim langsung dari Australia!! WOW, kan? Gila, man... Kasian kucing-kucing sini kalo mau kenalan sama si Poo, ya, musti pake bahasa Inggris gitu deh, heuheuyyy...

Anyway... Hari demi hari, Poo jadi idola gadis-gadis kecil di sana. Kebetulan, keluarga angkat Poo ini memang pemilik tempat pengajian rutin khusus anak, jadi... ya, bisa dibayangkan, tiap jadwal pengajian, 'Poo' dikerubuti anak-anak, rebutan gendong. Poo mirip piala bergilir.

*****


Bulu lebat berwarna abu, mata berwarna biru terang, ekor mirip kipas-kipas zaman raja Mesir. hehehe... "lutunaaaaa....," begitu kata anak-anak pengajian.

Poo, ya, awalnya seneng aja karena banyak fans. Tapi lama-lama... Anak guru ngaji curhat ke aku.

"Sekarang sensi banget kalo dipegang.... Iiiiiii aneh deh, udah dua kali tuh kabur sampe warung depan sana." terangnya. Aku mangguk-mangguk. Kesimpulannya: mungkin Poo lagi galau.

"Gak dikandangin?" tanyaku, mudah-mudahan ini bisa jadi saran ampuh menghentikan kebiasaan baru Poo kabur dari rumah.

"Biasanya juga nggak pernah dikurung-kurung di kandang, dia kucing manis, gak banyak tingkah."

"Hmmm..."

*****


Awalnya memang bikin uring-uringan, tapi setelah Poo selalu pulang dari acara kaburnya, sang majikan jadi terbiasa, udah gak kuatir lagi. Akhirnya, Poo dipersilakan mengikuti jejak-jejak kebiasaan kucing kampung pada umumnya: Keluyuran sesuka hati.
Hal itu sudah berjalan selama beberapa bulan yang lalu.

*****


"Gila tu orang! Ane yakin ntu semua anaknya Si Poo!"

"Sabar, bro...," Aku menenangkan. Poo dikabarkan punya anak dari kucingnya Bu Lela. Hadeh... Pembaca dilarang cemburu, hehe.

"Ente liat aja ntar. Warnanya, bulunya, matanya.... Itu Poo banget. Gak ada yang mirip emaknya, keturunan kampung!" Wewww, temenku nepsong banget gara-gara tau, ternyata selama ini Poo punya banyak anak. Ada lima ekor yang baru ketahuan. Dugaan itu juga ditolak mentah-mentah sama Bu Lela. Malah aku sempat mengusulkan untuk tes DNA aja sekalian, hahaha, biar urusannya cepet the end gtu...

*****

"Hemmmmhhh... Ya sudah...." Bisikku. "Hanya Poo dan kucingnya Bu Lela yang tau."

Kuperhatikan sosok abu bermata biru itu dari sela teralis barunya.

Selesai.

Thanks for reading

aL@Sukabumi14092014
Read more...

Diary Pecinta Kucing

0 comments
Read more...

KUCING DALAM MIMPI

0 comments
Oleh : AlLiana Nores

Hm.... Saking gak sukanya sama kucing, Mama menolak ada kucing melewati batas pintu dan jendela rumah. Aku merana banget lho, Sob, pasalnya mama cuma memperbolehkan memelihara kucing hanya di luar rumah. Makan, minum, tidur, semuanya harus di luar rumah. Sampe kucingnya dibikinin kandang di luar rumah: dari dus aja

Tapi.... Bukan aku namanya kalo nurut gitu aja sama aturan Ortu! Wkwkwk (buka kartu dikitttt hehheheee, maluuuu).

Nah, waktu itu aku piara kucing garong (karena kucingnya warna item, biasanya di daerah sini suka disebut kucing garong - red.). Nama kerennya: Miss Black, nama kampungnya Iteung. Hhaa
Sudah, sudah. Langsung ke pokok cerita.

Iteung atau Miss. Black ini tabiatnya mirip aku: 5% tidak taat aturan yang berlaku di rumah. Kadang Miss. Black sembunyi-sembunyi masuk kamar, main ke dapur, masuk kamar mandi, manjat meja makan. Begitulah, kerjanya blusukan ke dalem rumah. Dan lucunya: Miss. Black seolah ngerti, kalo mau berpapasan sama Mama, ya, dia kabur, hahha, pinterrrr, kan.... Hmmm, but gawatnya.... Miss. Black pernah nyasar masuk kamar Mama O maiiii gooood!! Apa yang terjadi? Aku dan Miss. Black kena sanksi. Hiks hiks. Aku dapet ceramah gratis dari Mama, Miss. Black dapet ancaman isolasi atau pembuangan ke tempat terpencil dengan cara dimasukkan ke karung sambil ditutup matanya,ah, ancamannya bikin begidik deh. Eit, hehhe, tapi aku dan Miss. Black belum pernah kapok, loch, hahayy...

*****


Begini sodara-sodara pembaca yang budiman.

Tepatnya, tengah malam. kebetulan waktu itu malam pertama aku satu kamar sama adek (kirain malam pertama apaan, hahha). Biasanya aku tukang main selundup kucing ke kamar, tapi berhubung ada adekku... ya daripada entar dilaporin ke Mama, mendingan jadi anak baik dulu aja deh, Nanti besok-besok bikin siasat lagi biar Miss. Black bisa masuk rumah tiap malam.

Hiks sedih.... Kebayang gak sih... hampir tiap malem bisa bawa Miss. Black ke kamar, nah waktu itu malah gak bisa. Hm, tambah sedih waktu denger suara Miss.Black ngeong-ngeong di luar. Duh, kesiannnn, pasti kedinginan dia. "Miss. Black... maafin akkuu....." hiks.

...........


Tambah malam, tambah gak bisa tidur, guling-guling sendiri. Tengok ke samping kiri, yang biasanya ada Miss. Black, sekarang udah jadi tempat permanen buat adekku. Haaaaaaa XD

..........


Nah, nah... tiba saatnya aku mulai ngantuk. Gak terasa... Mimpi, deh Mimpinya aneh-aneh. Ceritanya di dalem mimpi aku lagi maen di kelas, bareng anak-anak trio gila, pas buka pintu mau ke luar kelas, eh, kok langsung ada pemandangan halaman rumah? @##$%%^^& dasar mimpi... kadang suka gajebo, ya, kan. Lanjutan mimpinya begini:

Dalem mimpi, aku gak banyak komen, langsung masuk rumah, masuk kamar, langsung tiduran tanpa buka sepatu, meremmmm deh aku. Tiba-tida, ada suara "Meeeoooong...." kuenceng suaranya. Di mimpi, aku lihat, eh ada Miss.Black! Ya, aku panggil aja tuh (akunya masih sambil baringan). Miss. Black nyamperin, loncat ke perut aku! Hha... Efek loncatan Miss. Black itu sampe kerasa ke dunia nyata! Bagian alam sadarku berkata: Ini bukan mimpi! Ini nyata! Miss. Black akhirnya bisa masuk kamar! Gak tau jalan mana, pokoknya dia berhasil masuk kamar. Hahaaaaaaa, senengnyaaaaaa. Hatiku girang bukan main. Di alam mimpi dan di alam nyata, aku melakukan hal yang sama meskipun masih sambil merem: aku mengelus lembut Miss. Black yang sudah nemplok di perut. Tapiiiiiiiiii........ alam sadarku kaget bukan main, Miss. Black yang aku elus-elus lembut kok...... aneh??? Kok nggak ada bulunya????!!!!! Haaaaaaa!???

Efek kaget dari alam mimpi itu akhirnya mendapat respon serius ke alam sadarku: Aku bangun. Dan... tambah syok banget waktu tau apa yang dari tadi aku elus penuh sayang.

Rupanya kaki adekku yang mendarat di perut! Haaaa, beteeeeeee! Cepat-cepat deh tuh kaki aku lempar ke samping. "Auw!" Jerit My Sister, pelan tapi pasti kemudian dilanjut dengan 'Zzzzzz' lagi. Hahhhaaa


Kesel, malu, sebelll. Gkgkgk.

The End

Cuma itu. Terima kasih sudah membaca :)


aL@Sukabumi16/09/2014:08PM
Read more...

Serial My Timy: BELAJAR DARI PAK KUMIS

0 comments
Oleh : AlLiana Nores

Sore itu aku kaget. Makanan Timy habis! Kaget campur seneng, sih. Nafsu makan Timy mungkin sudah mulai stabil, hehehe, yesss! Akhirnya aku mulai memberi makan Timy dengan porsi dumbo.

Setelah penemuan tempat makan Timy yang kosong itu, pada jam makan berikutnya, aku mulai mengintai dari kejauhan. Timy yang duluan makan. Tapi, ya, begitulah… Timy Cuma makan sedikit, lantas pergi. Hiks, jadi…?? Siapa yang bantuin Timy makan???

Karena kesibukanku, soal tempat makan yang kosong itu sudah tidak kupedulikan lagi. Jarang banget punya kesempatan nonton Timy lagi makan. Akunya jarang di rumah, sih. Tugas memberi makan sudah kumandatkan pada saudaraku di rumah. Tiap pulang aktivitas, tau-tau tempat makan sudah lumayan bersih dari sisa. Mungkin ada tamu tak diundang? Ya, begitu mungkin, betul begitu. Tapi biasanya kalau ada tamu tak diundang, tidak sampai habis bersih seperti itu tempat makannya. Ah… pusing, bodo amat lah.


*****

– Minggu Sore –

Minggu sore, biasanya aku lumayan santai: tidak ada jadwal ke luar, kuhabiskan dengan istirahat sambil tulis-tulis sesuatu di meja kerja. Sampai jam 5 sore, Timy masuk ke ruangku, meong-meong lalu pergi, itu artinya ngajak ke luar, aku ikuti. Oh, soal tempat makanan: masih kosong. Timy memandangi tempat makannya dan aku secara bergantian. “Mintak makannnn, Broo.” Begitu kira-kira kalo Timy bisa ngomong.

………..

“Habiskan!” kataku sambil menyodorkan menu makan sorenya Timy. Aku segera kembali ke meja kerja. Baru saja duduk dan menulis hingga beberapa menit, kudengar suara ribut di belakang. Suara geraman Timy mendominasi keributan. Ya, itu suara Timy. Bergegas aku menuju TKP. Dan… rupanya sudah ada satu kucing lagi di sana, dengan lahap dia makan makanan Timy. Setahuku, Timy tidak terima, makanya Timy menggeram-geram ribut, tapi… luar biasa, kucing tak diundang itu cuek bebek, makan teruuuus tanpa menoleh. Aku bengong.

“Sudah, Timy. Biarin…” Kugendong kucingku yang masih ngambek. Kubawa ke ruang lain. Lalu kutengok kembali ke tempat makan. Kucing itu gemuk, berbulu halus dan bersih, berekor panjang. Menurutku, usianya tidak jauh berbeda dengan Timy.

“Nah, kucing itu lagi!” Seru adikku yang tiba-tiba nongol.

“Iya, nih. Kucing punya siapa? Kayaknya kelaperan.” Kataku prihatin. Ketika kuelus kepalanya, kucing itu tidak berusaha menghindar, hanya menoleh sebentar kemudian meneruskan makan.

*****

PAK KUMIS

Sore itu, kudapatkan informasi tentang kucing yang selama ini menghabiskan makanan Timy. Kucing malang, kucing yang dipelihara untuk dijadikan mainan anak-anak. Sering kucing itu main ke rumah, bahkan menginap berhari-hari, tidur di kursi kesayangan Timy, dll. Pernah satu malam, tetangga pemilik kucing tersebut datang ke rumah. Anaknya nangis terus minta kucingnya dibalikin. Mama sempat marah soal kucing yang kami pelihara diam-diam, apalagi itu kucing punya orang. Ah, besoknya kucing itu balik lagi ke rumah dalam kondisi pincang. Haduh… kasian.

Setelah berkali-kali kabur dari rumah majikannya, akhirnya tetanggaku sudah tidak peduli. Mungkin sudah bosan, atau sudah pelihara kucing baru untuk mainan anaknya. Begitulah, kucingnya malah betah tinggal di rumahku. Setelah kupastikan kalau kucing itu tidak punya pemilik lagi, segera kulakukan negosiasi  singkat dengan Mama. Akhirnya aku diizinkan memelihara satu kucing lagi secara legal! Yes!

“Selamat datang, Pak Kumis.” Kuberi nama ‘Pak Kumis’ untuk teman barunya Timy di rumah ini.

Awal peresmian adopsi Pak Kumis di keluarga ini, Timy sangat terganggu. Why not? Pak Kumis punya watak usil, gak pernah kapok ngusilin Timy, bikin kesel Timy.

*****

TIMY

Semenjak sembuh dari sakit keras, Timy jadi banyak berubah: yang tadinya gak bisa diem, sekarang jadi cenderung pasif, susah makan, gak mau diganggu, sensitif. Yah, Timy yang sekarang, berbeda dengan Timy yang kukenal dulu. Hiks.

Kehadiran Pak Kumis, kucing periang itu sempat membuat aku was-was. Gimana kalo Timy akhirnya kabur gara-gara gak suka sama Kumis? Oh, no. Makanya aku jadi super perhatian sama Timy. Sebagian waktuku kupakai untuk mengawasi dua kucingku, Timy dan Kumis. Syukurlah, Pak Kumis gak pedulian sama sikap judesnya Timy. Aku sering perhatikan, Timy ngambek-ngambek sama Pak Kumis, tapi Pak Kumis ngeyel, gak pernah main lawan, digalakin sama Timy malah dibales usil: Timy lagi diem, ekornya di pukul-pukul. Jadinya mereka bergumul seru. Tapi aku tau, Pak Kumis gak nganggep serius, selang berapa menit dia deketin Timy lagi di kursi. Lama-lama, Timy bosan, akhirnya cuek aja kalo ada Pak Kumis. Hehehe. Timy udah gak peduli kalo Pak Kumis deket-deket dia di kursi kesayangannya, Timy udah gak peduli setiap jam makan harus berbagi tempat makannya dengan teman barunya itu. Timy udah gak semarah sebelumnya. Aku senang donk, hehe. Aku jadi gak khawatir lagi soal mereka. Mulai sekarang aku sudah bisa kembali beraktivitas di luar dengan tenang. Bermacam kegiatan menguras perhatianku sampai kurang memperhatikan mereka di rumah. Aku pikir, semua pasti aman. Mudah-mudahan mereka bisa saling menerima satu sama lain, hehe.

*****

TIMY DAN PAK KUMIS

Saatnya pulang! Aku tak sabar bertemu keluarga dan dua kucingku di rumah setelah lima hari ada acara pelatihan di puncak. Sampai di depan pintu, kuucap salam, lalu dua kucingku berebut ke luar. Aku disambut! Hehehe. Anehnya, sekarang kulihat Timy sangat aktif, suara meongnya lebih ceria; kulihat Pak Kumis, tambah gembrot, tambah usil. Seharian itu kuperhatikan mereka. Sekarang Timy jadi ketularan jail, dua-duanya jadi jail! Pak Kumis lagi diem, tiba-tiba Timy iseng ngintip trus nerjang kepala Pak Kumis, akhirnya aksi kejar-kejaran terjadi. Hahaha, senangnya hatiku…  Mereka sudah mulai akur. Timy sudah kembali seperti dulu. Berkat Pak Kumis. Thank you, PAK KUMIS… hiks XD

*****
Dari situ, aku jadi banyak belajar dari Pak Kumis. Gimana cara dia nanggepin sikap Timy yang judes.
Pak Kumis selalu periang, gak trauma akibat perlakuan majikannya dulu, Pak Kumis tetap ceria. hehe. I Like it :)

*****

Hmmm, sekarang aku lagi kepikiran terus soal Pak Kumis dan Timy, Setelah mereka akur, mereka jadi sering becanda berduaan, jarang main ke luar, gak tau udah pada punya gebetan atau belum. Mereka berdua, kan, sama-sama cowok. Sekarang akur banget... Makan berdua, tidur berdua, kemana-kemana sering berdua. Bahkan cuma sekedar Pak Kumis puf aja, sempat-sempatnya Timy ngikut. Hadeh... cape deh. Normal kah mereka???

Sepertinya harus diadakan penyelidikan lebih lanjut, dan hasilnya harus dibuat kembali dalam bentuk cerita: ‘Serial: Gebetan Timy dan Pak Kumis’. :D

But, thanks for reading :)


(aL@Sukabumi:11/09/2014)
Read more...
 
Gang Kucing © 2017 - Design by AlLiana Nores